Simbah di kampung Laweyan

Disalah satu sudut kota Solo, saya menemukan kampung yang berisi pengerajin batik beserta showroom tempat memamerkan hasil kreasi batik yang telah mereka buat. Ketika kaki terus berjalan menyusuri kampung batik laweyan, saya melihat salah seorang pengerajin batik yang sudah tidak muda lagi. Beliau biasa dipanggil simbah oleh keluarga serta tetangga dekat rumahnya. Usia simbah sekitar 80 tahun.

img_0242Di siang yang terik, simbah masih sibuk dengan alat membatiknya. Workshop tempat simbah membatik memang tidak seperti tempat lain di lokasi ini yang sudah tertata sedemikian rapi karena kampung ini sejatinya merupakan kampung wisata yang di kelola oleh warga setempat bekerja sama dengan dinas terkait. Simbah membatik di teras rumahnya yang berlantai cor-coran tanpa tegel atau keramik. Teras tersebut juga tidak beratap karena memang diperuntukan sebagai tempat menjemur kain batik maupun menjemur pakaian milik keluarga.

Melihat simbah yang masih semangat membuat batik sampai seusia sekarang, saya merasa miris. Ya, saya cinta batik, bahkan saya juga suka dengan motif-motif batik dari berbagai daerah di Indonesia, tetapi batik yang biasanya kita miliki merupakan hasil batik print dari sebuah mesin dengan desain digital bukan lagi dengan teknik gambar seperti yang di lakukan simbah.

Menurut simbah, harga batik hasil buatan tangan memang lebih mahal harganya sehingga banyak kalangan yang keberatan jika harus membelinya, padahal batik print yang dijual di pasaran adalah barang impor dari beberapa negara Asia, salah satunya Cina. Simbah bercerita bahwa pengerajin batik seperti dirinya masih sulit memasarkan hasil batik yang dibuat manual ini, masih kalah bersaing dengan workshop batik yang ada di kampung tersebut karena biasanya mereka bekerja sama dengan travel agent untuk promosi tempat tersebut. Walaupun di rasa masih sulit untuk memasarkan produknya, simbah masih beruntung memiliki anak-anak yang sayang dan membantu menjual hasil batik buatan simbah. Batik simbah biasnya dijual di pasar batik modern seperti Pusat Grosir Solo (PGS) atau pasar yang terkenal dengan batik-batiknya yaitu pasar Klewer.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s